[{"content":"marhaenisme 🇲🇨 nasionalisme\nIndra Dermawan S.Pd from @unindraofficial\nfakultas sejarah @bemfipps_unindra\nJakarta-tasikmalaya\n","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/","section":"*  ID_ Indra Dermawan  *","summary":"","title":"*  ID_ Indra Dermawan  *","type":"page"},{"content":"↣ Konsepsi Negara Kesejahteraan yang dicita-citakan para pendiri republik harus berkembang menerjang waktu.Hal tersebut mensyaratkan watak modern, efektif, dan efisien, tetapi tetap berbasis kearifan lokal bangsa.\nKarena para perintis telah mendirikan republik ini dengan niat baik, kita tak boleh memperpanjang antrean para ahli warisnya yang bingung dan rendah diri dalam menghadapi tantangan tersebut. Saat ini terdapat sejumlah anak muda yang mencintai Indonesia, yang sedang mulai mendaftar kira-kira kebutuhan-kebutuhan apa saja yang bakal mengemuka sampai 50 tahun ke depan.\nYang saya maksud adalah kebutuhan-kebutuhan bila kita membangun dan membiayai sebuah Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang menyeluruh, lewat penerimaan pajak, bagi hasil sumber daya alam, dan semacamnya . Saya mengusulkan sibernetika sosial sebagai perangkat mekanisme alokasi sumber daya agar tetap efisien dan tepat sasaran.Pendekatan modern ini telah teruji secara luas dalam pengelolaan dan sistem kendali manajemen perusahaan-perusahaan besar dan juga sejumlah negara.\nSecara umum, gambar besar dari gagasan itu akan tampak seperti ini. Proses produksi dan konsumsi dari semua sektor perekonomian kita (bayangkan dinamika crude oil price Indonesia, misalnya), kapasitas dan surplus yang dihasilkan proses-proses itu untuk membiayai Negara Kesejahteraan (kenaikan penerimaan dari perubahan harga minyak, misalnya), pengambilan keputusan di tingkat terendah (seperti petani beras di desa atau di lantai produksi pabrik pangan, misalnya), dan faktor-faktor relevan lainnya (struktur demografis dan sebaran spasial dari kantong- kantong kaum miskin perkotaan/ perdesaan, misalnya) akan dihimpun dalam satu gugus kendali. Gugus kendali ini berbasis jaringan yang bekerja simultan.Jaringan itu sendiri bersandar pada asupan informasi dari perkembangan terkini (real time) yang memungkinkan inefisiensi alokasi informasi dan sumber daya ditekan serendah mungkin.\nDengan sibernetika sosial, saya membayangkan bahwa Anda akan lebih percaya diri untuk mengatakan: ”Dalam waktu t, karena kenaikan harga minyak sebesar 0,02 persen pada t - 1, Indonesia akan menambah X tempat tidur dan Y alat kesehatan di rumah sakit daerah Kabupaten Z. Fasilitas tempat tidur dan alat kesehatan itu akan bisa dipakai masyarakat mulai t + 1”.\nSibernetika sosial kian relevan karena sejak tahun 2001 kita melakukan desentralisasi dan otonomi daerah.Dengan demikian, kita dihadang pada kompleksitas pengambilan keputusan termasuk di tingkat daerah, yang sangat terbatas apabila menggunakan pendekatan birokrasi tradisional. Terkait Negara Kesejahteraan, pembangunan SJSN pada akhirnya haruslah mempertimbangkan kemampuan daerah untuk menjalankan sistem jaminan sosial ini. Antara lain, kemampuan pembiayaan, kemampuan pelayanan jasa dari SJSN, atau kemampuan untuk evaluasi, monitoring, dan verifikasi. Kearifan lokal tiap daerah adalah basis pengelolaannya.\n⇶ Kearifan lokal Konsepsi Negara Kesejahteraan Indonesia akan lestari jika belajar banyak dan bersandar pada kearifan-kearifan lokal di tanah air yang berkaitan dengan kerja sama sosial. Saya ingin menyitir dua contoh dari pengalaman-pengalaman tersebut: sistem irigasi di Bali (subak) dan sistem perburuan paus di Lamalera yang telah teruji dalam sistem yang kompleks. Sistem subak telah berusia lebih dari seribu tahun. Apa yang kurang kita kenal barangkali adalah bagaimana dilema sosial dipecahkan secara cerdas di sana. Dilema sosial itu berkaitan dengan pembagian sumber daya yang demikian terbatas, tetapi bisa menguntungkan setiap orang yang turut serta dalam sistem tersebut. Seperti kita ketahui, karena topografi di Bali, sawah dibuat berundak-undak.Air mengairi empang-empang padi dari hulu ke hilir, membuat pemilih empang padi di bagian hilir sangat mungkin kekurangan pasokan air. Selain itu, hama tikus juga adalah ancaman serius bagi tiap petani padi, baik yang memiliki lahan di hulu maupun yang di hilir. Kalau air tak bisa mengalir dari bawah ke atas, dari hilir ke hulu, lain halnya dengan tikus yang bisa berada di mana saja. Para petani Bali lantas bersepakat mengairi dan melakukan panen padi secara serempak.Sebagai hasilnya, tikus jadi tak memiliki kesempatan menghabisi padi secara berpindah-pindah, dari empang yang satu ke empang yang lain, dari sistem subak di daerah satu ke daerah lain, sampai akhirnya tikus-tikus itu mati. Moral cerita ini adalah gotong royong antarpetani yang mengusung kepentingan bersama. Masing-masing sadar, bertindak egois untuk kepentingan diri sendiri akan membuat hasil per kapita panen padi akan lebih rendah dibandingkan dengan hasil kerja kolektif. Struktur interaksi seperti ini membuat para petani sadar, mereka akan dihukum dengan cukup keras jika berpaling dari kerja sama sosial. Ini pelajaran penting yang harus kita ambil untuk konsepsi Negara Kesejahteraan Indonesia: bagaimana membuat kerja sama sosial menjadi pilihan yang menguntungkan bagi setiap orang sehingga sebuah sistem dinamis dapat hidup dan bertahan secara berkelanjutan.\n⇶ Solidaritas sosial Pengalaman nelayan pemburu paus di Lamalera, Nusa Tenggara, juga menarik. Berburu ikan paus sudah tentu bukanlah perkara gampang, dan pastinya berbahaya, apalagi menggunakan perangkat seperti perahu tradisional. Dibutuhkan koordinasi dan kerja sama sosial. Satu perahu yang melakukan penangkapan berisi sampai 14 orang dan tak jarang lebih dari satu perahu yang terlibat dalam penangkapan tersebut.Tak jarang pula ada perahu yang sampai terjungkal ke laut lantas butuh pertolongan. Yang ingin sekali saya angkat adalah bagaimana hasil tangkapan itu dibagikan. Mekanisme pembagian hasil tangkapan itu punya norma kerja sama sosial sendiri. Pertama-tama, hasil tangkapan dibagikan kepada nelayan yang terlibat langsung dalam penangkapan.Mereka mendapatkan bagian-bagian yang penting dari paus.Lalu, para penerima hasil tangkapan berikutnya adalah beberapa anggota tertentu dari kelompok pengelola perahu, biasanya berdasarkan garis keturunan. Setelah itu, kelompok penerima hasil tangkapan yang lain adalah para anggota perahu yang kadang bukan anggota dari kelompok yang menangkap langsung. Akhirnya, bagian tangkapan diberikan juga kepada kelompok yang merupakan penghuni awal Pulau Lembata sebagai semacam konsesi atas penggunaan lahan. Sebuah sistem kerja sama yang kompleks. Lalu, bagaimana jika ada pihak atau perahu yang melanggar norma sosial yang telah disepakati bersama ini? Ada kasus di mana perahu tersebut, ketika menangkap paus tenggelam dan membutuhkan bantuan, dibiarkan tenggelam oleh para nelayan yang lain. Jika di Bali mengandalkan insentif bersama, kerja sama sosial di Lamalera pada tingkat tertentu menggunakan struktur insentif yang lain, yaitu mekanisme penghukuman sosial. Kedua kerja sama ini berlandaskan pada mekanisme solidaritas sosial (gotong royong) di satu sisi dan resiprositas sosial di sisi lain. Dalam membangun sebuah Negara Kesejahteraan yang ingin hidup dan bertahan lama, dua ciri di atas adalah penting..\nsekian\u0026hellip;\u0026hellip;\u0026hellip;\u0026hellip;\u0026hellip;..\n","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/blog/gagasan-sang-fajar/","section":"Artikel","summary":"","title":"Apakah Indonesia Bisa Menjadi Negara Kesejahteraan?","type":"blog"},{"content":" Dengan Menulis membuat mu bersejarah ","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/blog/","section":"Artikel","summary":"","title":"Artikel","type":"blog"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/categories/artikel/","section":"Categories","summary":"","title":"Artikel","type":"categories"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/categories/","section":"Categories","summary":"","title":"Categories","type":"categories"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/ekonomi/","section":"Tags","summary":"","title":"Ekonomi","type":"tags"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/indonesia/","section":"Tags","summary":"","title":"Indonesia","type":"tags"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/pembangunan/","section":"Tags","summary":"","title":"Pembangunan","type":"tags"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/sosial/","section":"Tags","summary":"","title":"Sosial","type":"tags"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/","section":"Tags","summary":"","title":"Tags","type":"tags"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/desa/","section":"Tags","summary":"","title":"Desa","type":"tags"},{"content":"Selamat sore, kali ini saya berada di desa tanah leluhur, sudah puluhan bahkan ratusan tahun desa ini sudah menjadi payung dan lantai bagi penduduk yang mayoritas nya sebagai petani yang memanfaatkan hasil bumi,\njika dilihat dari sisi geografis desa ini, memang berada di pedalaman, namun menurut saya seiringnya waktu berjalan, tidak terlalu sulit untuk menjangkau daerah ini dengan moda transportasi roda 4,\nkali ini terbesit di lamunan saya mengapa desa semakmur ini sulit berkembang, melimpahnya sumber daya alam di sini tidak selaras sebanding dengan sumber daya manusia nya,\njika kita bicara SDM yang bobrok, kebelakang, sudah banyak sarjana yang lahir di desa ini,atau lulus selevel tingkat smu, namun hal ini tidak membawa dampak perubahan yang berarti,\ndi tambah minat melanjutkan sekolah baik setelah lulus sd ataupun seterusnya disini masih kurang, kita tidak bisa menyalahkan anak-anak tersebut,yang notabenya nanti sebagai penopang daerah dan bangsa,\nmindsett yang tertanam di pikiran mereka lain, sebagian besar dari mereka hanya sebatas mampu melanjutkan apa yang sudah terjadi beberapa lama kebelakang,\ndan ketika kita berkaca pada desa lain di luar sana,, SDA yang subur bisa di topang selaras oleh SDM yang produktif, hmmmm apa yang salah ?? dan siapa yang patut kita salahkan, ?? apakah nenek moyang kita, dan apakah orang tua kita,dan apakah kita sendiri yang harus bertanggung jawab,\nbaiklah kali ini saya tidak akan mencari-cari di mana yang salah dan siapa yang salah, mulai saat ini kita harus berbenah untuk menciptakan desa yang maju, mulailah mengoreksi diri sendiri lalu kita evaluasi, dan tanyakan pada diri sendiri, apa yang mampu kita berikan pada desa ini selama kita hidup, akan kah kita sama, atau lebih parah, hanya mampu melahirkan generasi yang kurang produktif,\n","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/blog/mampu-apa-desa-ini/","section":"Artikel","summary":"","title":"mampu apa desa ini ??","type":"blog"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/categories/opini/","section":"Categories","summary":"","title":"Opini","type":"categories"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/pendidikan/","section":"Tags","summary":"","title":"Pendidikan","type":"tags"},{"content":"","date":"12 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/sdm/","section":"Tags","summary":"","title":"SDM","type":"tags"},{"content":"","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/belajar/","section":"Tags","summary":"","title":"Belajar","type":"tags"},{"content":"","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/edukasi/","section":"Tags","summary":"","title":"Edukasi","type":"tags"},{"content":"","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/inspirasi/","section":"Tags","summary":"","title":"Inspirasi","type":"tags"},{"content":"","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/kehidupan/","section":"Tags","summary":"","title":"Kehidupan","type":"tags"},{"content":"","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/kepemimpinan/","section":"Tags","summary":"","title":"Kepemimpinan","type":"tags"},{"content":"","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/masyarakat/","section":"Tags","summary":"","title":"Masyarakat","type":"tags"},{"content":"","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/motivasi/","section":"Tags","summary":"","title":"Motivasi","type":"tags"},{"content":"","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/pemerintahan/","section":"Tags","summary":"","title":"Pemerintahan","type":"tags"},{"content":"","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/pemimpin/","section":"Tags","summary":"","title":"Pemimpin","type":"tags"},{"content":"↣ Syarat untuk jadi pemimpin yang baik adalah anda harus jadi { pemimpi yang baik } Kenapa? Seorang pemimpin tanpa punya mimpi besar, berarti sudah menyia-nyiakan kepercayaan banyak orang. Anda sudah dipilih banyak orang\u0026quot; ribuan yang milih anda ⍖\npersawahan hilir . harapan hidup masyarakat desa ↣ Saya mengambil contoh dari seorang pemimpin yaitu Bung Karno. Bung Karno adalah seorang pemimpin sekaligus pemimpi. Tahun 20-an, petani-petani di desa itu masih banyak yang buta huruf, tanahnya sempit, kemudian oleh Bung Karno di ajak bermimpi untuk mendirikan sebuah negara\u0026hellip; ⇉ Republik Indonesia\u0026hellip;.\n","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/blog/syarat-untuk-menjadi-kepala-desa/","section":"Artikel","summary":"","title":"Syarat Untuk menjadi kepala desa !!","type":"blog"},{"content":"TIPE KEPEMIMPINAN KEPALA DESA\njaman era digitilasisasi tentunya kami masyarakat desa ingin bisa bersaing dengan masyatrakat di kota, masyarakat desa harusnya jangan cukup puas hanya menjadi penonton di balik layar , mari kita dorong agar desa ini dipimpin dengan semestinya ..\nTipe kepemimpinan kepala Desa dibagi menjadi tiga tipe Kepemimpinan :\nyakni Kepemimpinan regresif, konservatif-involutif inovatif-progresif\nKepemimpinan regresif dapat dimaknai sebagai kepemimpinan yang berwatak otokratis, secara teori otokrasi berarti pemerintahan yang kekuasaan politiknya dipegang oleh satu orang. Salah satu cirinya adalah anti perubahan, terkait dengan perubahan tata kelola baru tentang Desa baik itu Musyarawah Desa, usaha ekonomi bersama Desa dan lain-lain sudah pasti akan ditolak. Desa yang parokhial (hidup bersama berdasarkan garis kekerabatan, agama, etnis atau yang lain) serta Desa-Desa korporatis (tunduk pada kebijakan dan regulasi negara) biasanya melahirkan kepemimpinan seperti ini.\nKepemimpinan konservatif-involutif, merupakan model kepemimpinan ini ditandai dengan hadirnya kepala Desa yang bekerja apa adanya (taken for granted), menikmati kekuasaan dan kekayaan, serta tidak berupaya melakukan inovasi (perubahan) yang mengarah pada demokratisasi dan kesejahteraan rakyat. Kepemimpinan tipe ini pada umumnya hanya melaksanakan arahan dari atas, melaksanakan fungsi kepala Desa secara tekstual sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kepala Desa.\nKepemimpinan inovatif-progresif, kepemimpinan tipe ini ditandai dengan adanya kesadaran baru mengelola kekuasaan untuk kepentingan masyarakat banyak. Model kepemimpinan ini tidak anti terhadap perubahan, membuka seluas-luasnya ruang partisipasi masyarakat, transparan serta akuntabel. Dengan pola kepemimpinan yang demikian kepala Desa tersebut justru akan mendapatkan legitimasi yang lebih besar dari masyarakatnya. Aspek paling fundamental dalam menjalankan kepemimpinan Desa adalah Legitimasi, hal ini terkait erat dengan keabsahan, kepercayaan dan hak berkuasa. legitimasi berkaitan dengan sikap masyarakat terhadap kewenangan. Kewenangan untuk memimpin, memerintah, serta menjadi wakil atau representasi dari masyarakatnya.\nmari kita awasi kepemimpinan kepala desa kita sejak dini, untuk terciptanya desa yang maju dan makmur .\n","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/blog/tipe-pemimpin-desa/","section":"Artikel","summary":"","title":"Tipe Kepemimpinan Kepala Desa: Dari Regresif Hingga Inovatif","type":"blog"},{"content":" kenapa harus sekolah ??? # menurut saya sih bukan tentang pelajarannya yang akan digunakan, tetapi koneksi, wawasan, cara berfikir, terbiasa on time, terbiasa dengan deadline, dapat menyampaikan pendapat, menyampaikan ide di depan umum, public speaking, dll yang akan kepake!\ndan semua didapat setidaknya basicnya dari sekolah. mengumpulkan pr pada waktunya, presentasi, tugas kelompok, berorganisasi, dan banyak hal lainnya yang secara tidak disadari membentuk mindset untuk siap bersaing di real world nanti.\njadi kalian mulai males sekolah, inget jangan salahin sekolahnya, tapi mindsetnya yg harus dibenahi passion juga sangat penting. harus tau apa yg kalian suka.\ncobain semua, capek-in diri dengan segala aktifitas, passion gada yg salah kok. kalau suka bola, tekunin bola. \u0026ldquo;ah nanti gada masa depannya!\u0026rdquo;\nc.ronaldo gajinya lebih besar dari orang kantoran yang dulunya mungkin juara kelas terus kan? apapun yg kalian suka, tekunin! jalanin dengan semangat, mumpung masih muda.\ngak mau kan tuanya malah kerja keras karena masa mudanya kebanyakan clubbing sama flexing mobil bmw hasil duit kerja keras bokap ?\nmendingan .. wkwkwkwkwkw\nbe active guys jangan banyak alasan. lakuin aja dulu done is better than perfect - selesai lebih baik daripada sempurna.\nmau mulai sesuatu tapi takut jelek? # memang pasti jelek dulu baru bagus!\nalso personal reason buat saya, saya tidak pernah tau kapan karir di dunia industri akan \u0026ldquo;jatuh\u0026rdquo;. buat saya,\ninvestasi terbesar dan terbaik bukan tanah, emas, apartment atau apapun tapi ilmu = otak= knowledge .\n","date":"3 Mei 2019","externalUrl":null,"permalink":"/blog/pendidikan-education/","section":"Artikel","summary":"","title":"why education !!","type":"blog"},{"content":"","date":"30 April 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/budaya/","section":"Tags","summary":"","title":"Budaya","type":"tags"},{"content":"Secara keseluruhan gambar di atas memiliki identitas berupa lambang yang mengandung unsur-unsur : 🔜 10 helai daun dengan 1 batang dengan arti : 10 unsur kepribadian yang harus dimiliki oleh pemuda-pemudi /remaja. 1.Taat, 2.taqwa, 3. kuat, 4.teguh, 5.tegas, 6.tulus, 7.sederhana, 8.ikhlas, 9. jujur, 10.terampil, dan 1. batang sebagai penopang yaitu beragama.\n🔜1 bunga api dengan arti : semangat pemuda yang berkobar di jiwai semangat kemasyarakatan (sosial) 🔜1 lambang 4 tangan saling mengikat dengan dikelilingi bintang dengan arti : pemuda-pemudi harus berpangku tangan agar tetap teguh dan kuat membangun pondasi daerah yang tentram, damai, dengan semangat yang diterangi oleh bintang yang bersinar, 🔜 1 helai pita di bagian bawah sebagai penopang dengan arti : karang taruna menjadi tempat atau wadah bagi pembinaan remaja.\n","date":"30 April 2019","externalUrl":null,"permalink":"/blog/filosofi-karang-taruna/","section":"Artikel","summary":"","title":"Filosofi Lambang Karang Taruna Cikondang","type":"blog"},{"content":"","date":"30 April 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/karang-taruna/","section":"Tags","summary":"","title":"Karang Taruna","type":"tags"},{"content":"","date":"30 April 2019","externalUrl":null,"permalink":"/categories/masyarakat/","section":"Categories","summary":"","title":"Masyarakat","type":"categories"},{"content":"","date":"30 April 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/organisasi/","section":"Tags","summary":"","title":"Organisasi","type":"tags"},{"content":"","date":"30 April 2019","externalUrl":null,"permalink":"/tags/pemuda/","section":"Tags","summary":"","title":"Pemuda","type":"tags"},{"content":"","externalUrl":null,"permalink":"/authors/","section":"Authors","summary":"","title":"Authors","type":"authors"},{"content":"Test\n","externalUrl":null,"permalink":"/galeri/","section":"Galeri Saya","summary":"","title":"Galeri Saya","type":"galeri"},{"content":"","externalUrl":null,"permalink":"/series/","section":"Series","summary":"","title":"Series","type":"series"}]